Selasa, 12 Agustus 2008

My World



Damai di hati


Duduk sore hari.
Rasakan hangatnya sisa-sisa cahya mentari
Hembusan anginya melewatiku
Sejuk…hingga merasuk ke jiwa.
Deru kereta sampai di kedua daun telingaku.
Ku luruskan pandanagn
Menatap pucuk daun-daun
Mereka bergoyang
Kian kemari tak tentu arah.
Kicauan burung terdengar sayup-sayup
Ah…
Angin tetap berhembus.
Langit tetap terbentang.
Dahan dan daun tetap menari
Seirama…
Burung yang lentik tetap terbang..
Damai…
Sejuk…
Rasakan semua. Nikmat…
Akankah aku seperti mereka.
Seluruskah jalanku bak pandangan
Atau segemulai pucuk-pucuk daun.
Yang senantiasa bergoyang
Ikuti sang Angin…
Akankah hidupku seperti mereka.
Seperti burung-burung yang berkicau.
Menyanyi di pagi dan sore.
Akankah seperti batu yang diam
Hancur luluh sedikit demi sedikit
Termakan air dan waktu.
Ah…
Angin…
Damai hembusmu
Tetapkan titianmu padaku
Dinginkan diriku selalu
Dalam hidup yang baru separuh ku tempuh
Ah…
Angin…
Jangan biarkan aku seperti dia
Sipucuk pohon yang menari
Bergoyang kian kemari
Tak tentu arah.

2-Agustus-2002
Dewi Mengku Pertiwi
Juli-2006




Inginku

Malam menyelimuti kini
Pengap temaniku dalam kamar
Rasakan jiwa yang gundah
Selami diri
Rasakan kesunyian malam dan diri

Kerlap-kerlip dunia kian menyala
Menjajakan kenikmatan semu
Jiwa mulai berontak
Aku harus menghadangnya
Jika terlena diri binasa

Hidup baru mulai ku tempuh
Ilmu telah ku dapat
Cita dan asa samar menjelma
Kegagalan temani diriku
Menjelma menjadi kekuatan diri

Kadang sesal terasa di hati
Kadang tanya terus hantui
Mengapa aku masih seperti dulu?
Bodoh dalam diri
Masih tumbuh saja!


Ingin ku ukir pengalamanku
Menjadi perjalanan panjang
Penuh makna dan nilai
Aku terus menggali ilmu
Semoga indah dalam citaku


21-Desember-2002

Dewi Mengku Pertiwi
Juli-2006















Kesenyapan


Kesenyapan batin bertahta kini
Menguasai dan menjatuhkan
Biarkan…
Aku biarkan…
Larikan?
Buang jauh dariku
Ku usir yang telah lalu
Walau bekas menyayat hati
Aku jadikan ia kerikil tajam
Kehadiran tak dirasakan
Ku injak sepi
Ku lalui senyap
Ku jelang fajar dan bahagia
Enyahlah!


21-Desember-2002

Dewi Mengku Pertiwi
Juli-2006



Bimbang

Berayun-ayun kapal berlayar
Terombang-ambing riak gelombang
Kian kemari tak tentu arah
Kemanakah biduk berlabuh?

Nahkoda memainkan perannya
Namun tak tetap kapal berlayar
Kemanakah hendak dibawa?
Bagaimana kiranya?


30-januari-2003

Dewi Mengku Pertiwi
Juli-2006









Jelang Dewasa


Matahari yang bersinar kan sirna
Berganti lembayung jingga
Bayang-bayang tetap ada
Terkikis perlahan dengan malam

Aku yang mulai melangkah
Hendak mencapai kedewasaan
Enggan hati untuk pergi
Karena malu dengan diri

Kadang pusing aku
Kupandang yang lain
Mereka bisa
Mengapa aku tidak?


10-Febuari-2003
Dewi Mengku Pertiwi
Juli-2006